Telaga Merdada

Sejarah

Seorang resi yang sakti mandraguna bernama Resi Gautama, mempunyai 2 orang putra kembar, Guwarso & Guwarsi serta seorang putri bernama Dewi Anjani. Suatu hari, dua orang putra kembarnya mengamati apa yang dilakukan Dewi Anjani dalam kamar. Dewi Anjani mengeluarkan sebuah  benda yang dibungkus kain putih dan memendarkan cahaya keemasan. Dewi Anjani memperhatikan benda berpendar yang tak lain adalah sebuah cupu, cupu manik Astagina.

     
Sebenarnya, yang berhak menerima cupu itu adalah salah seorang dari putra kembar, Guwarso/Guwarsi. Mengetahui hal tersebut, maka dua saudara kembar tersebut berusaha untuk merebut cupu tersebut dari Dewi Anjani. Perebutan antara si Kembar dan Dewi Anjani akhirnya diketahui oleh sang ayah. Resi Gautama kemudian memanggil isterinya dan menanyakan asal dari cupu manik itu. Istrinya tidak menjawab. Dia merahasiakan asal muasal cupu yang sebenarnya merupakan pemberian seorang dewa yang jatuh cinta kepadanya.


Kesal dengan sikap istrinya yang seolah menyembunyikan sesuatu, Resi Gautama murka dan mengutuk istrinya menjadi tugu batu. Kemudian cupu itu dilemparkan ke udara. Cupu bagian bawah (Madirda) jatuh ke bumi dan muncullah telaga, yang kemudian diberi nama “Telaga Merdada”. Nama tersebut diambil dari nama cupu bagian bawah “Mardirda”.


Raden Guwarso dan Guwarsi dalam perjalanannya mencari cupu manik Astagina, akhirnya sampai di Telaga Merdada. Berjam-jam mencari di dasar telaga, namun cupu tersebut tidak ditemukan. Setelah lelah, keluarlah dua saudara kembar tersebut dari dalam telaga. Sekeluarnya mereka dari dalam Telaga, terkejutlah mereka ketika melihat wajahnya yang berubah menjadi kera. Begitupun Dewi Anajani, wajahnya yang cantik jelita juga berubah menjadi kera.


Peristiwa yang dialami oleh dua saudara kembar serta Dewi Anjani diyakini sebagai akibat dari kenakalan serta kerakusan mereka. Hingga saat ini, hal tersebut menjadi sebuah pesan moral yang terpelihara secara turun temurun di Desa Karangtengah. Sementara itu, cupu manik Astagina hingga sekarang masih memancarkan pendar keemasan dalam waktu-waktu tertentu. 

Sumber :

https://karangtengah.weebly.com/obyek-wisata.html

Telaga Merdada

Telaga Merdada merupakan telaga terluas yang ada di Dataran Tinggi Dieng. Luasnya telaga ini menjadi alasan diberikan nama “Merdada”, yang merujuk pada “dada”, yang mengandung makna lapang atau luas.


Telaga Merdada terletak di Desa Karangtengah, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara. Luas telaga ini sekitar 25 hektare, yang dikelilingi oleh dua bukit, yaitu Bukit Pangonan dan Bukit Semurup. Telaga ini berada di ketinggian 2.045 mdpl, yang membuat suasana sejuk dan nyaman karena pemandangan yang sangat indah.


Telaga Merdada dibuka untuk umum setiap hari dari jam 07.00 WIB sampai 16.00 WIB. Tiket masuk ke tempat wisata ini sebesar Rp5.000 per orang. Selain dapat menikmati keindahan alam dari tepi telaga, pengunjung juga bisa menikmati keindahan dengan mengitari telaga. Pengelola menyediakan dua jenis kayak yang dapat disewa oleh pengunjung. Cukup membayar Rp 25.000 untuk kayak yang digunakan sendirian (single), dan Rp 50.000  untuk kayak kapasitas dua orang (double) selama setengah jam.


Mendayung kayak di Telaga Merdada terasa unik. Pasalnya suasana di sekitar telaga dengan pantulan awan dan langit memberi kesan seolah sedang mendayung di atas awan. Berbeda dari wisata kayak pada umumnya, yang dilakukan di tempat terbuka dengan cuaca relatif hangat, di sini pelancong akan diajak berpetualang menerobos kabut, lengkap dengan tiupan angin dingin khas Dataran Tinggi Dieng.

Sumber :

https://www.indonesiakaya.com/jelajah-indonesia/detail/telaga-merdada-telaga-terluas-di-dieng